Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Monday, 25 April 2016

Hidup Yang Bagai Kertas

HIDUP YANG BAGAI KERTAS 
📄📃📑📜📄📃📑

📃Akte kelahiran... adalah kertas...

📈Kartu keluarga... kertas...

📑Piagam kelulusan... kertas...

📋Ijazah juga kertas...

🔖semuanya hanya berupa kertas....

📁Akad nikah kertas..

📂Paspor kertas....

📇Surat kepemilikan rumah juga kertas....

📝Resep dokter kertas....

📜 Undangan acara juga 
kertas...

💵 Uang juga kertas....

⏳⌛Kehidupan kita layaknya kertas-kertas....

⏰Seiring waktu berlalu, dirobek, kemudian dibuang....

Dunia itu semuanya terdiri dari kertas2...

💬Berapa banyak orang bersedih karena "kertas-kertas" yg dimilikinya....

💭Dan berapa banyak orang begitu bahagia dengan "kertas-kertas" yg dimilikinya....

🌠Tetapi, ada satu lembar kertas yg tidak akan dilihat oleh pemiliknya, yaitu:
"SURAT KEMATIAN"

☝Maka persiapkanlah untuk menghadapi kematian, karena itu adalah "KERTAS" terpenting.. 
orang bijak berkata:

Dua hal yg tidak akan kekal dalam diri seorang mukmin : "masa mudanya dan kekuatannya."

Dan dua hal yg berguna untuk setiap mukmin: 
" akhlak yang mulia dan jiwa yang lapang".

Dan dua hal pula yg akan mengangkat derajat seorang
" sikap tawadhu (rendah hati) dan menolong kesulitan orang lain ".

Dan dua hal pula yg menjadi penolak bala': " sedekah dan silaturrahmi"

Ada tiga fase hidup yg tampak unik :

1⃣Masa puber
anda punya waktu dan kekuatan tetapi tidak punya uang.

2⃣Masa bekerja
anda punya harta dan kekuatan, tetapi tidak punya waktu.

3⃣Masa tua
anda punya harta dan punya waktu, tetapi tidak punya kekuatan.

Inilah kehidupan, ketika kita mendapat sebuah karunia. 

Maka akan hilang karunia lainnya...

Kecuali bg kita yg mau bersyukur...

Barangkali kita merasa bahwa kehidupan orang lain, selalu lebih baik dari kehidupan kita !!!

Sementara orang lain pun meyakini, bahwa kehidupan kita lebih baik darinya.

Hal itu dikarenakan kita melupakan hal yg sangat penting dalam hidup kita, yaitu bersikap Qanaah mensyukuri apa yang kita miliki

☝Mereka melupakan bahwa kebahagiaan itu dengan menyempurnakan rasa syukur dan sabar menerima takdir kehidupan ini, di iringi do'a dalam setiap langkah2 usaha kita.

Beribadah kepada-Nya dengan ketundukan dan kepatuhan...

Sadarilah bahwa masih ada satu "kertas" lagi yg akan kita terima, Yakni kertas catatan amal ibadah kita dan tindak kemaksiatan kita...

Saturday, 23 January 2016

Tuhan Selalu Sediakan Penawarnya

Entah siapa yang telah menggerakkan.
Tetapi sepertinya, selalu ada turut andil- Nya dalam setiap urusan.

Bahkan daun yang gugur pun bergerak atas kehendak - Nya.
Apalagi hati manusia yang memang semestinya kembali kepada pencipta - Nya.

Betapa Ia menciptakan hati manusia untuk menjadi begitu dekat dengan - Nya.
Betapa Ia akan senantiasa mengikuti setiap prasangka hamba - Nya.

Adalah sia - sia ketika hati yang Ia titipkan tidak dipupuk baik - baik oleh pemiliknya.
Begitu kecewanya Ia ketika hati yang Ia amanahkan ditanami tumbuhan tidak baik oleh pemiliknya.

Bukankah Ia telah menciptakan pupuk dan tanaman yang baik bagi hati manusia.
Bukankah Ia telah menciptakan penawarnya ketika tanaman itu diganggu oleh sekelompok hama.

Begitulah Ia yang senantiasa menciptakan segalanya berdampingan.
Bukankah akan selalu ada penawar bagi segala penyakit hati yang saat ini sedang tertanam?

~mfzt~

CINTA YANG TAK PERNAH CUKUP

Cinta Rajawali kepada Angsa
"Jangan sedih sayangku,
Pelangi selalu datang."
Ujar Rajawali kepada Angsa.
"Mataku tak lagi bagus untuk melihat," ujar Angsa.
Rajawali mencopot matanya dan memberikannya kepada Angsa.
"Kakiku tak lagi kuat berdiri," seru Angsa lagi.
Rajawali mematahkan kakinya dan memberikannya kepada Angsa.
"Paruhku tak bisa merasakan apa-apa," kata Angsa lagi.
Rajawali memotong paruhnya dan memberikannya kepada Angsa."
"Mungkin darahku yang kurang, " ujar Angsa kemudian.
Rajawali menggoreskan luka di dadanya, mengucurkan darahnya untuk Angsa.
Angsa tetap saja sedih
Rajawali kini sekarat

Denny JA


IKHLAS ITU BUKAN BERUJAR "AKU IKHLAS"

Seorang sahabat bertanya kepadaku perihal cara belajar ikhlas. Aku tertegun. Apalah dayaku menjawab pertanyaan itu sementara dalam hidup ini aku masih dihantui ketakutan-ketakutan yang tak jelas sebabnya. Ketakutan seperti: Apakah aku akan berhasil? Apakah aku akan wisuda sesuai target? Apakah aku akan menjadi lulusan yang berkompeten? Apakah aku akan diterima oleh  masyarakat?—itulah yang sebenarnya membuatku akhirnya bertanya, “Jika semua itu tidak tercapai, bisakah aku ikhlas?” Aku bahkan bertanya-tanya sendiri bagaimana agar bisa ikhlas. Kemudian aku diserang dengan pertanyaan itu. “Wi, bagaimana cara belajar ikhlas?”
Begini saja. Aku berusaha menenangkan diri sendiri sebelum menjawab pertanyaan sahabatku itu. Sebab aku tahu dia sedang terpuruk, aku harus melancarkan kata-kata—yang sebenarnya biasa saja—tetapi dapat menyemangati seseorang yang sedang putus asa. Oh, aku bukan ingin menandingi motivator andal di televisi. Aku memilih untuk melancarkan kata-kata motivasi bukan untuk menunjukkan bahwa aku bisa mengeluarkan kata-kata penyemangat. Tidak. Bukan itu.
Sesungguhnya aku sedang menasihati diriku sendiri.
Kalimat pertama yang aku ucapkan untuk menjawab pertanyaan itu adalah, “Ikhlas itu berpikir bahwa apa yang telah terjadi sekarang adalah sesuatu yang terbaik.” Klasik ya? Iya. Namun, mudahkah untuk menerapkannya? Ini butuh hati yang lapang.
Perihal ikhlas, aku pernah melakukannya; menerapkan kalimat klasik tadi. Enam bulan yang lalu, aku mengikuti tes masuk universitas di dua kota: Malang dan Bandung. Malang menjadi tujuanku yang utama, sementara Bandung menjadi cadangan—sekaligus menjadi keinginan papaku. Jadi dapat dikatakan bahwa aku berdoa semoga lulus di Malang dan (barangkali) papa berdoa semoga aku lulus di Bandung (dan tidak lulus di Malang). Kenyataan bahwa ternyata aku lulus di Malang tidak membuat aku sepenuhnya bahagia karena aku tahu aku pun belum mendapatkan restu sepenuhnya dari papa.
“Malang terlalu jauh. Kita lihat nanti. Kalau kamu lulus juga di Bandung, lebih baik pilih Bandung saja.”
Kalimat itu membuat aku jatuh dan berhenti berharap. Aku tetap ingin ke Malang, bukan Bandung. Waktu itu, pengumuman dari universitas Bandung belum keluar, tetapi mama dengan lembut mempengaruhi hatiku agar aku menuruti kata-kata papa karena perasaan mama berkata aku juga akan lulus di Bandung. “Jika lulus di Bandung, pilih Bandung saja....” kalimat itu terngiang-ngiang.
Aku tahu. Aku bukan apa-apa tanpa restu orang tua. Tiga malam aku lewati dengan perasaan kesal. “Kalau memang tidak boleh ke Malang, kenapa aku diizinkan pergi ujian waktu itu??” Aku masih tidak terima. Namun sehari setelahnya aku mulai berpikir positif, “Oh, mungkin ini rencana Tuhan yang paling baik. Barangkali Tuhan ingin aku menginjakkan kaki di Malang walaupun hanya sekali. Barangkali memang lebih baik aku ke Bandung, bukan Malang.”
Ajaibnya kata-kata yang aku karang sendiri itu membuatku kemudian berkata dalam hati, “Baiklah. Jika lulus di Bandung, aku akan memutuskan kuliah di Bandung. Di mana saja tidak masalah. Semua tempat kuliah sama.” Aku mengulang kata-kata itu walaupun di lubuk hati paling dalam aku masih menyimpan harap. Malang. Malang. Malang.
Kemudian akhirnya aku bisa merasakan pikiranku ringan.  Mungkinkah ini yang dinamakan ikhlas? Aku sudah menghapus harapan tentang Malang dalam otakku. Aku tahu keputusan orang tua adalah yang terbaik.
Anehnya, ketika aku sudah ikhlas—dan di dalam hatiku hanya ada kata Bandung, Bandung, Bandung—semuanya berputar. Hari itu jadwal pendaftaran ulang di Malang tinggal beberapa minggu lagi—dan pengumuman dari Bandung akan keluar sebentar lagi. Mama kemudian memastikan perihal restu. Jika memang papa tidak mengizinkan untuk ke Malang, maka tiket pesawat tidak akan dipesan segera. Tahukah apa yang dikatakan papa?
“Ya, kalau kamu mau kuliah di Malang,  berarti kita berangkat ke Malang. Buat apa ke Bandung.”
He??? Aku terperangah. Papa mengizinkanku? Mataku berkaca-kaca.
Restu itu kemudian dipertegas dengan, “Besok langsung pesan tiket.”
“Ha? Besok?” Aku masih kaget.
“Iya. Lalu kapan?  Kan kita tidak butuh lagi menunggu pengumuman dari Bandung.”
Waktu itu rasanya aku ingin menangis. Beginikah hadiah keikhlasan itu? Ketika kita telah ikhlas melepas harapan yang kita pupuk, kemudian Tuhan mengembalikannya dengan jalan yang tidak diduga-duga.
Begitulah. Sebab aku telah merasakannya, Kawan, maka aku bisa berkata demikian. Aku telah merasakan buah dari keikhlasan itu. Ikhlas itu dapat diwujudkan dalam penerimaan kita terhadap sesuatu yang telah terjadi. Ikhlas berarti kamu percaya bahwa Tuhan tahu itu yang terbaik. Tentang apa yang terjadi—yang membuatmu terpuruk itu—pasti ada hikmah yang disediakan Tuhan sebab Dia tak pernah memberikan sesuatu yang hampa. Begitu pula dengan ujian hidup. Dia tak pernah memberikan ujian yang melampaui batas kemampuan makhluk-Nya.
Ikhlas berarti menerima bahwa apa yang terjadi sekarang adalah resiko dari apa yang kita kerjakan di hari lalu. Lalu muncul pernyataanmu selanjutnya. “Aku sudah berusaha ikhlas tetapi semakin aku mencoba aku semakin merasakan sakit dan terpuruk.”
Begitulah, Kawan. Seperti halnya melupakan seseorang yang telah menyakiti kita. Semakin dilupakan, semakin teringat dan mengundang rasa sakit. Sama halnya dengan ikhlas. Ikhlas bukan dengan mengatakan “Aku ikhlas kok! Aku ikhlas!”  Itu yang akhirnya membuatmu tidak ikhlas. Sebab sekalinya kamu mengucapkan kata “ikhlas”, ada ribuan kata-kata lain di dalamnya yang akan mengingatkanmu tentang sebab keterpurukanmu yang lalu. Jadi lebih baik jangan sebut kata “ikhlas”. Satu kunci untuk ikhlas adalah berpikir positif. Memunculkan kata-kata positif dalam pikiran ternyata memiliki efek yang bagus—kata psikolog. Katakanlah, “Ini baik kok! Ini baik. Mana tahu karena kejadian ini ada kejutan yang bagus dari Tuhan.” Bagaimana? Terdengar lebih optimis yaa!
Aku bukan guru kehidupan yang telah merasakan pahit-asam-manis-nya hidup. Aku hanya terlalu sering mendengar keluh kesah orang lain yang membuatku kemudian belajar agar lebih tegar daripada orang tersebut. Aku bukan motivator yang bisa mengeluarkan kata-kata indah dan membuat orang lain bertepuk tangan. Aku hanya seorang pendoa yang terlalu sombong jika tidak menggantungkan harap kepada Sang Pendengar Harap.
Semoga kita tetap semangat dalam perjuangan. Sampai jumpa di gerbang kesuksesan kita masing-masing!
 karya Dewi syafrina

tentang harapan

Ada saatnya kita harus melepaskan harapan... kadang-kadang harapan adalah pengalih perhatian.

Sekejap kita mendadak buta membaca peta hidup kita sendiri: Kemana harus melangkah? Bagaimana harus melangkah? Dan kita berkawan rasa asing yang mengguncangkan.

Tapi, bukankah harapan-harapan memang tak pernah tergambar pada peta manapun?

Dalam sedih dan putus asa, mengapa seketika kita menjadi manusia paling tolol sedunia yang berharap tersesat di tengah hutan lalu kelaparan, tertimpa reruntuhan saat gempa bumi paling hebat, tertabrak kereta api hingga mati, atau apa saja marabahaya yang paling gila?

Demikian tolol kita yang ingin tenggelam dalam kesedihan-kesedihan, kita yang percaya diri berlebihan dengan merasa sanggup untuk sampai pada titik terendah dari sebuah penderitaan—benarkah kita bisa melampaui kesedihan manapun, hingga kosakata bernama derita-luka-lara-nestapa-bahaya tak lagi memberikan akibat apa-apa pada kehidupan kita? Aku menyangsikannya. Sebab Tuhan tak pernah berlebihan, cobaan berat hanya diberikan kepada mereka yang kuat. Dan Tuhan tak akan membebankan sesuatu melampaui kesanggupan kita menjalaninya...

“Kalau kematianku akan membukakan matanya dan membuatnya mengerti, aku ingin pergi...“ katamu. Lalu kau segera mencari cara untuk pura-pura ingin bunuh diri, barangkali agar dunia kasihan padamu? Ah, kalaupun kau sungguh-sungguh ingin mati, apakah masalah dan penderitaan akan selesai setelah kau pergi?

Aku menyangsikannya.

Percayalah, kesedihan adalah hadiah—agar pada saatnya kita dihibur dengan cara paling membahagiakan. Seringkali kita memang dibuat tak mengerti sebab kita memang tak perlu mengerti... sering kali hidup memang harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan...

Tapi, percayalah pada waktu: Semua pasti berlalu, yang tersisa tinggal kenangan...

Mencintai adalah juga soal menemukan sudut pandang

Yang sering luput kita sadari dalam 'mencintai' adalah bahwa harapan-harapan yang kita reka dalam kepala kadangkala mengacaukan sudut pandang kita.
Misalnya dalam hubungan rumah tangga atau relasi kita dengan orangtua. Sebagai manusia, tentu kita ingin dicintai dengan cara tertentu, tergantung imajinasi masing-masing. Sayangnya, orang lain, suami atau orangtua, misalnya, mungkin mencintai kita dengan cara yang berbeda.
Jika hal itu terjadi, mungkin kita kecewa, kita merasa hidup kita tidak bahagia, atau membuat kita mengandaikan 'kehidupan yang lain' yang sama sekali tidak kita miliki. Padahal, jika kita sadar: Hanya karena seseorang tidak mencintaimu seperti cara yang kamu inginkan, tidak berarti ia tidak memberikan segala yang terbaik yang dimilikinya untukmu!
Maka, di sini, cinta selalu memerlukan banyak sudut pandang: Seandainya engkau bisa tahu seberapa besar dan seberapa dalam perasaan seseorang dalam mencintaimu, kau akan kehilangan semua cara untuk mengucap syukur dan terima kasih.
Mari memberi jarak pada harapan yang berlebihan, karena seringkali harapan-harapan adalah pengalih perhatian, bukan?

Saturday, 7 November 2015

FILOSOFI KOPI

FILOSOFI KOPI

Dira memprotes Sanni yg memberi Gula pada secangkir kopi hitamnya.
“Mengapa?”, Tanya Sanni.
Dira: “Tau gak, bahwa tujuan dari kopi ini dibuat selain utk dinikmati keharumannya jg utk dinikmati rasa pahitnya... Sejak awal kopi di tanam, di rawat, bertahan dari sengatan matahari & guyuran hujan, sampai pada pertempuran melawan hama & binatang lainnya, supaya ia bisa jadi pahit. Ia di giling, di lindas, di keringkan, di gerus menjadi bubuk & tersaji di depan kita ini, adalah perjuangan utk menjadi pahit.
Dan sekarang…, setelah sekian panjang perjuangan itu, engkau membubuhinya dgn gula agar terasa manis?”
Memang tdk semua org suka kopi pahit. Tapi ada ungkapan, seorang penikmat kopi sejati tdk akan pernah mencampur kopinya dgn rasa lain. Dia akan menikmati kopi dgn rasa pahitnya. Rasa pahit itulah yg membuatnya di sebut kopi.
Banyak orang berdoa agar TUHAN melepaskan kepahitan hidup yg sdg mereka alami, spti org yg hendak memberi gula pada secangkir kopi pahit. Bahagia bagi mrk adalah ketika tdk ada kepahitan dlm hidup mrk.
Tetapi apa mungkin hidup tanpa kepahitan?
Nyatanya setiap org punya kepahitannya sendiri & nyatanya kita tdk bisa lari dari rasa pahit, bukan karena tdk mampu, tetapi karena tdk ada sejengkal tempatpun di atas muka bumi ini yg terbebas dari kepahitan.
Sesungguhnya, Rasa pahit adalah salah satu fondasi kehidupan, Dgn adanya rasa pahit, rasa yg biasa2 pun akan terasa manis. Mari kita berdoa bukan agar selamanya terhindar dari rasa pahit hidup, tapi kekuatan utk mengatasi rasa pahit tsb.
"The roots of education are bitter, but the fruit is sweet." Aristotle
Have a GREAT day

Thursday, 17 September 2015

jika hidupmu berharga kenapa malas

🍒 JIKA HIDUPMU BEGITU BERHARGA, MENGAPA MALAS ? 🍒
🌿 Untukmu wahai jiwa yang malas,,,
➰ Betapa ruginya dirimu, jika engkau memperturutkan rasa malas yang menggelayut dalam jiwamu.
 Orang lain telah mendahuluimu dengan amal, keutamaan, cita-cita, serta prestasi hidup.
 Sementara dirimu masih tertidur, belum berbuat apa-apa dan tertinggal.
 Orang lain telah menghafal puluhan juz, bahkan hafal 30 juz.
💥 Sementara dirimu juz 30 pun tak hafal-hafal dari dulu sampai sekarang
 Orang lain telah mendahuluimu berpagi-pagi menjemput rezeki.
 Sementara dirimu masih nyaman dalam hangatnya selimut.
 Orang lain telah mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya.
💥 Sementara engkau belum mengumpulkan apa-apa.
👣 Kafilah kebaikan telah berangkat, tapi engkau masih sibuk mempersiapkan diri.
 Para perindu malam telah sibuk bermunajat,, dan mendirikan malam-malamnya dengan shalat tahajud, membaca Al-Qur’an dan memohon ampun kepada Allah dikeheningan malam.
 Sementara dirimu masih terbuai dengan mimpi-mimpi.
 Bangunlah wahai para pemimpi!
 Sesungguhnya kemulian tak akan bisa kau dapatkan dengan kemalasan.
 Cita-cita tertinggi tak akan bisa kau raih dengan sikap santai, dan berlambat-lambat.
 Semua keutamaan itu hanya bisa kau raih dengan bangun, bangkit, dan bersegera,
 Maka bergegaslah, berangkatlah lebih awal, jangan menunda-nunda, milikilah tekad yang membara serta istiqamahlah dalam menjalaninya.
🔖 Wahai orang yang bermalas-malasan, mungkin sebuah syair ini cocok untuk menggambarkan keadaanmu,
📜 “Hai orang yang tertipu, siang harimu hanya ada lupa dan lalai
📜 Dan malam harimu hanya ada tidur lelap
📜 Kamu tentu akan hancur binasa
📜 Karena kamu hanya memperjuangkan sesuatu yang justru kelak akan kamu ingkari sendiri
📜 Hidupmu didunia tak ubahnya laksana binatang
📜 Kamu suka hal-hal fana dan bergelimang dalam angan-angan hampa
📜 Sama seperti orang tidur yang sedang dibuai oleh nikmat-nikmat mimpi”
🌿 Wahai jiwa yang lemah,,,
 Jika engkau menyadari betapa menyesalnya ahli surga atas setiap detik yang mereka lewatkan tanpa melakukan amal kebaikan, tanpa ada ucapan dzikir didalamnya, tanpa ada memberi manfaat kepada yang lain, karena melihat balasan dan ganjaran yang begitu besar atas setiap amal kebaikannya. Mereka ingin dikembalikan ke dunia agar bisa menambah kebaikannya, walaupun itu cuma sementara,
 “Penduduk surga tidak menyesali sesuatu kecuali terhadap satu saat yang lewat, sementara mereka tidak berdzikir kepada Allah didalamnya.” (Diriwayatkan At-Thabrani)
🌿 Wahai jiwa,,, betapa berhaganya kesempatan yang engkau punya sekarang!
 Tapi kenapa engkau sia-siakan!
💫 Jika hidup begitu berharga, mengapa engkau malas?
🌏 Mumpung masih hidup di alam dunia. Kesempatan bagimu melakukan amal masih terbentang luas.
⌚ Manfaatkanlah setiap detiknya yang begitu berharga.
💭 Coba bayangkan apabila engkau telah berpindah dari alam dunia ini, terputus sudah segala kesempatan untuk beramal, yang ada engkau hanya menunggu balasan. Tidak akan pernah ada peluang, tidak akan pernah ada harapan untuk kembali ke dunia agar engkau bisa memperbaiki segalanya.
 Tidakah engkau dengar berita dari Al-Qur’an tentang rengekan orang yang dihadapkan kematian kepadanya;
 “Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia), agar aku berbuat amal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak Sesungguhnya itu perkataan yang diucapkannya saja dan didepan meraka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan.” (QS. Al-Mukminun: 99-100)
➡ Atau berita tentang penyesalan ahli neraka, dan mereka minta dikembalikan ke dunia;
📖 “Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman’.” (QS. Al-An’am: 47)
🌴 Jika kesempatatan begitu beharga, kenapa engkau tak bergegas!
💨 Bangunlah, hempaskan setiap kemalasan yang membelenggu jiwa...!
🌿 Sungguh saudaraku, jika engkau benar-benar tahu akan berharganya hidup, tentu engkau tak akan bermalasan lagi.
🌿 Jika engkau tahu keutamaan orang-orang yang datang lebih awal, tentu engkau akan bergegas.
🌿 Jika engkau tahu keutamaan mendirikan shalat berjamaah di masjid, niscaya engkau akan mendatanginya meskipun dengan merangkak.
👉 Seandainya engkau paham akan besarnya ganjaran pahala syahid dijalan Allah, mungkin engkau akan menjadi orang yang pertama menyq
💎 Jika engkau merasakan keutamaan serta kemuliaan yang dimiliki oleh para ahli ilmu, tentu engkau akan berlelah-lelah untuk belajar, menghafal, dan menuntut ilmu.
🌿 Maka saudaraku, Hempaskanlah kemalasan! Raihlah keutamaan!
🌿 Wahai jiwa, agar kemalasan tak bersarang dalam jiwamu!
💥 Karena sungguh malas dalam beribadah adalah salah satu sifat yang dimiliki kaum munafik:
📖 “Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.” (QS. An-Nisa’: 142)
♨ Jika malas masih bersemayam dalam dirimu maka mohonlah pertolongan dan perlindungan kepada Allah, bukankah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajarkannya kepada kita.
💎 “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketidak berdayaan, malas, pengecut dan pikun (HR. Muslim)
✨ Karena dengan hanya pertolongan Allahlah kita bisa terhindar dari sifat-sifat jelek.
📎📎📎📎📎📎📎📎📎📎
✒ Sahabatmu Nailul Authar

analogi tentang google dalam hidup kita

Ni ada Sarapan Siang bagus ni dari sebelah 😍😍 :
............
MENCONTEK SPIRITUALITAS GOOGLE

Posted on August 14, 2015

Rio Beni Arya

Jadi…kenapa sebenarnya Google tidak membuat sebuah teknologi PC (Personnal Computer) atau membuat sebuah Operating System untuk sebuah PC atau Laptop? Saya bertanya tentang itu kepada seorang rekan saya yang kebetulan dulu pernah bekerja di Nokia. Saat dia masih di negara asalnya, China.

Mengetahui fakta bahwa rekan saya ini dulunya pernah bekerja di NOKIA, pembicaraan kami sepanjang jalanan dari Balikpapan menuju Kutai Kartanegara pagi itu diwarnai dengan diskusi ngalor ngidul, dimulai dari kenapa NOKIA tidak memasang Android pada Operating Systemnya, kenapa malah Windows Mobile? Lalu cerita tentang kebangkrutan NOKIA, lalu menyambar pada cerita tentang raksasa teknologi Google.

Banyak hal menarik yang dia ceritakan mengenai Google, tetapi satu hal mengenai pertanyaan saya di atas tadilah yang kemudian menjadi tema menarik kami sepanjang perjalanan.

Kenapa Google tidak membuat Operating System sendiri untuk sebuah PC atau LAPTOP, atau kenapa malah Google tidak merambah bisnis PC?

Lalu rekan saya ini menjelaskan dalam bahasa inggris yang pekat dengan logat China-nya. Ini saya baru tahu sekarang. Menurut dia, ada dua pendekatan besar dalam dunia teknologi komputer.

Pendekatan pertama, adalah golongan yang percaya bahwa trend di masa depan adalah personnal computer. Maksudnya, di masa depan, sebuah komputer haruslah menjadi semakin canggih, semakin complicated, dan mempunyai resource atau kemampuan perangkat yang semakin hebat. Apa sebab, sebabnya adalah sebuah aplikasi akan semakin canggih dan untuk menjalankannya butuh resource dan kemampuan dahsyat. Pada golongan inilah berada IBM dan kawan-kawannya.

Pada sisi yang berseberangan, adalah ORACLE. Yang berpendapat bahwa bukan sebuah PC yang harus menjadi semakin kompleks, melainkan sebuah server. Server, haruslah sangat digdaya, sedangkan sebuah PC atau LAPTOP hanya menjadi corong input dan display dari data yang diolah server. Tetapi, sebuah PC itu bisa tersambung ke server.

Tak ingin berpanjang lebar menceritakan tentang teknologi yang saya sendiri tak paham benar, tetapi ide itulah yang ternyata kemudian dipakai oleh Google.

Google tak membuat PC, juga tak terlalu getol membuat operating system, karena Google percaya, bahwa trend masa mendatang adalah CLOUD COMPUTING, dimana orang-orang akan semakin tergantung kepada server.

Sederhananya, seseorang hanya butuh komputer atau perangkat dengan kemampuan kelas medium, asalkan bisa input data, dan bisa display, dan ini yang paling penting “Terhubung dengan internet”.

Maka kita cobalah lihat semua produk Google. Ada Google maps. Google satelite. Google sky. Street view. Dan segala macam produk Google lainnya kesemuanya bisa dijalankan pada komputer kelas menengah, atau rendah, asalkan punya network yang kencang. Dan Google membuat browser hebat untuk menjadi corong display dan inputnya, yaitu Chrome.

Coba kita bayangkan, seandainya, semua kemampuan google maps, semua bank data Google maps, semua kecanggihan grafik Google maps itu harus disimpan pada sebuah PC, kita butuh PC seberapa dahsyat? PC kelas rendah sampai menengah tak akan sanggup menjalankan aplikasi itu. Tetapi, karena segala perhitungan dan algoritma google maps dijalankan oleh server, dan PC hanya menjadi display saja lewat browser, maka aplikasi yang sejatinya begitu kompleks itu terasa sangat ringan. Bahkan handphone bisa membukanya. Sekali lagi, hanya jika kita punya koneksi internet yang cepat dan stabil.

Wah, ini hal yang sangat menarik dan membuka mata saya. Saya mengucapkan terimakasih kepada rekan saya itu. Lalu tiba-tiba saya terfikir tentang sesuatu.

“You know what,” Saya sampaikan padanya, bahwa saya teringat tentang sebuah wejangan yang hampir analog dengan cerita dia barusan.

Sepertinya, saya tahu bagaimana mengaplikasikan strategi Google dalam kehidupan sehari-hari.

Rekan saya itu tertarik dan bertanya, bagaimana caranya?

Saya katakan padanya. Kita ini, setiap hari berhadapan dengan berbagai macam masalah dan perhitungan yang sangat kompleks. Masalah pekerjaan. Masalah rumah tangga. Masalah ekonomi. Dan segala macam masalah.
Dan pendekatan kita dalam mengatasi masalah itu selama ini adalah seperti golongan IBM yang merasa harus mengatasi segala masalahnya sendiri.

Akibatnya, kita harus memiliki PC yang demikian kompleks. Kita membebani diri kita sendiri. Sedangkan, hampir kita bisa katakan bahwa mungkin lebih dari sembilan puluh sembilan persen kejadian di dalam hidup ini tak bisa kita kontrol sama sekali, dan setiap kejadian akan berkelindan dengan kejadian lainnya yang saling mempengaruhi dalam hidup ini.

Jika kita ingin menghadapi semua masalah dengan perhitungan kita sendiri, maka kita bisa gila dan depresi. Apa pasal? Perhitungannya luar biasa kompleks.

Maka sebaiknya, kita tiru google. Sebenarnya kita hanya perlu kemampuan input data, dan kemampuan untuk display saja. Selebihnya, biarkan kalkulasinya dijalankan oleh server. Yang Maha Kuasa. Maka hidup kita akan menjadi lebih ringan.

Saya jadi teringat kembali dengan salah satu kutipan bijak dari aforisma Al-Hikam. “istirahatkan dirimu dari tadbir” kata Sang Bijak Ibnu Athoillah.

Apa itu tadbir? Tadbir adalah memastikan hasil usaha. Menghitung-hitung seandainya saya melakukan aksi begini, maka hasilnya PASTI begini.

Just do your part. Input datanya. Dan selebihnya biarkan Sang Maha Server –meski kita tahu tak ada umpama bisa menjelaskannya– yang mengaturnya.

Satu hal saja yang harus kita benar-benar jaga, yaitu “network”, koneksi yang sangat kencang dan stabil pada Sang Maha Server. Dzikrullah.....

Thursday, 6 August 2015

SEBERAPA PEJUANGKAH DIRIMU

Reminder
Jika ada situasi yang tidak kamu sukai. Kondisi yang membatasi. Jangan mengeluh. Hampir semua orang pernah berada atau mungkin masih berada pada keadaan yang tidak enak; capek, sakit, tidak punya uang, tidak suka pekerjaan yang sekarang, dan ujian-ujian hidup yang mkn jauh lebih berat dari yang kita alami.
Pada kondisi itulah, kamu bisa melihat, seberapa pejuang-kah dirimu? Buang alasan... NO EXCUSE! Hadapi hidup dengan senyum, tertawakan kesedihan. ^

ANAK MUDA YANG AKAN SUKSES BESAR

Anak muda yang akan sukses besar, memang sering galau tapi jarang menyerah.
Dia sering menangis tanpa alasan dan tertawa geli tanpa sebab.
He he … memang terkadang orang tertukar antara dia dan pasien yang melarikan diri sebelum pengobatannya selesai, tapi seperti itulah ciri-ciri anak muda yang akan menjadi pribadi hebat di masa depan.
Dia mungkin miskin hari ini dan ditolak bahkan oleh wanita yang tidak cantik, tapi dia akan sukses dan dikejar-kejar wanita cantik dan gemulai dari kalangan dusun sampai kompleks gedongan.
Tapi dia akan mendewasa, dan tidak mudah silau oleh kecantikan bedak dan sasakan rambut produksi salon.
Dia mencari wanita yang indah hatinya, yang manja lebay tapi galak dalam membelanya, yang hati dan matanya dijaga hanya untuknya, yang memelihara kecantikannya yang sederhana itu sampai jauh ke masa tua, yang melahirkan anak-anaknya yang sehat, cedas dan lucu; yang akan membantu suaminya menjadi pribadi yang sukses dan berpengaruh, yang akan menjadi sahabat bagi kebahagiaan satu sama lain dalam umur yang panjang dan sehat.
Memang tidak mudah menjadi anak muda, karena kegagalannya adalah kegagalan masa depannya; dan semuda itu dia harus berhasil agar masa depannya mapan dan berwibawa.
Jiwa-jiwa muda adalah kekasih-kekasih Tuhan yang sedang dalam pembentukan.
Adik-adikku yang baik hatinya,
Bersabarlah. Sudah banyak petunjuk baik dari Tuhan, dari orang tuamu, dari para guru dan penasihat.
Patuhilah yang baik, dan hidupmu akan baik.
Aamiin
I love you all guys!
Mario Teguh
Suka   Komentari   
  • Kurniyati Fauziyah
    Tulis komentar...

PERCAYA PADA POTENSI DIRI

PERCAYA PADA POTENSI DIRI
Dalam hidup kita selalu menghadapi berbagai ujian dan tantangan. Untuk itu, kita sebenarnya sudah dipersiapkan menghadapinya. Berbagai kemampuan dan kapasitas yang bernama Potensi Diri sudah “menyatu” di tiap individu untuk kemudian digunakan saling melengkapi satu sama lain. Karena sesungguhnya, tak ada satu pun makhluk yang tercipta tanpa manfaatnya masing-masing. Dan sejatinya, antar-makhluk menjadi pelengkap “puzzle” bagi yang lain.
Maka, jangan pernah meragukan potensi dalam diri. Jangan pernah takut tak bisa berprestasi. Jangan pernah menyerah untuk bisa unjuk gigi! Bahkan, di tengah kelemahan yang mungkin terlihat, pasti ada satu dua kemampuan yang mampu membuat kita jadi insan unggulan.
Ibarat berlian yang belum digosok, bakat seseorang kadang memang tak selalu muncul sedari dini. Sering kali harus “diadu” terlebih dahulu dengan tantangan dan cobaan, maka “berlian” baru akan berkilau di tengah kerasnya benturan..
Mari, kuatkan semangat. Tumbuhkan rasa percaya diri! Apa pun peran kita saat ini, di mana pun kita berkarya saat ini, terus berjuang dengan maksimal. Tunjukkan bahwa kita selalu bisa jadi insan-insan terbaik dengan potensi yang luar biasa. Yakin, sukses adalah hak kita semua!
Salam sukses Luar Biasa!!
NDRE WONGSO

ary ginanjar

Jika kita lunak pada diri sendiri, maka dunia akan keras kepada kita. Sebaliknya, jika kita keras pada diri sendiri, maka dunia akan lunak kepada kita.
Karena itu, terus perkuat kebiasaan keras kepada diri sendiri. Disiplin, rajin, bekerja keras, ulet, berani, tegas, pantang menyerah, serta berbagai sikap kaya mental harus terus kita tanamkan. Hanya dengan sikap tersebut, kita akan jadi manusia yang lugas dalam meladeni hadangan, luwes dalam melewati tantangan, lincah dalam mengatasi persoalan, kuat dalam menghadapi goncangan, dan tegar menghadapi badai ujian.
Bulan puasa adalah bulan menahan diri. Melawan nafsu, menahan emosi, mengekang diri. Dan, kebiasaan positif tersebut akan menjadi salah satu cara untuk menguatkan diri untuk memperkeras mentalitas. Sehingga, mentalitas yang mumpuni akan mengasah diri agar kita jadi manusia unggulan dalam berbagai kesempatan. Keras pada diri sendiri akan mengantarkan kita sebagai pemenang kehidupan.
Maju terus, pertegas langkah, perkuat tekad, maka kerasnya batu-batu penghalang akan dapat kita taklukkan!
Salam ‪#‎ESQ165‬
@AryGinanjar165

Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat.



Satu pohon dapat membuat jutaan batang korek api, Tapi satu batang korek api juga dapat membakar jutaan pohon.
Jadi, satu pikiran negatif dapat membakar semua pikiran positif. Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak, oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil, sang korek api langsung terbakar. Kita mempunyai kepala, dan juga otak, jadi kita tidak perlu terbakar amarah hanya karena gesekan kecil.
Ketika burung hidup, ia makan semut. Ketika burung mati, semut memakan burung.
Waktu terus berputar sepanjang zaman. Siklus kehidupan terus berlanjut.
Jangan merendahkan siapapun dalam hidup, bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.
Kita mungkin berkuasa tapi WAKTU lebih berkuasa daripada kita.
Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita. Waktu kita sakit, kita baru tahu bahwa sehat itu sangat penting, jauh melebihi HARTA.
Ketika kita tua, kita baru tahu kalau masih banyak yang belum dikerjakan.
Dan, setelah di ambang ajal, kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.
Hidup tidaklah lama, sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA.
Saling menghargai, Saling membantu dan memberi, juga saling mendukung.
Jadilah teman perjalanan hidup yg tanpa pamrih dan syarat.
Believe in "Cause and Effect" Apa yang ditabur, itulah yang akan kita tuai ... !!
Ada 3 hal dlm hidp yg tk pernah kembali adlh ( WAKTU, Kata2, KESEMPATAN).
Ada 3 hal yg dpt menghancurkan se2org adlh (Kemarahan, Keangkuhan, Dendam),
Ada 3 hal yg gak blh hilang adlh (Harapan, Keikhlasan, Keju2ran).Ada 3 hal yg paling berharga adlh (Kasih syg, Cinta, Kebaikan),
Ada 3 hal yg tak psti adlh (Kekayaan, Kejayaan, Mimpi),
Ada 3 hal yg membuat watak se2org adlh (Komitmen, Ketulusan, Kerja keras),
Ada 3 hal yg membuat kita sukses adlh (Tekad, Kemampuan, Fokus),
Ada 3 hal yg tdk prnh kt tw adlh (Rezeki, Umur, Jodoh),
Ada 3 hal yg pasti dlm hidp adlh (Tua, Sakit, Kematian).....

SEBUAH RENUNGAN


Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrakkan badannya ke kereta api.
Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal dari USA, tidak akan meminum obat tidur hingga overdosis.
Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G. Vargas, presiden Brazil, tidak akan menembak jantungnya.
Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari USA, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga mati overdosis.
Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Perancis, tidak akan bunuh diri, akibat sebuah acara di televisi.
Ternyata, bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu, bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya atau sesukses apapun hidupnya.
Tapi yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri... Mampukah ia mau mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal.
Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli kebahagiaan itu. dan kita akan sulit mendapatkan kebahagiaan karena sudah diborong oleh mereka.
Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti belahan lain di bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada .
Untungnya, letak kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia. Jadi kita tidak perlu membeli atau pergi mencari kebahagiaan itu.
Yang kita perlukan adalah HATI yang BERSIH dan IKHLAS serta PIKIRAN yang JERNIH, maka kita bisa menciptakan rasa BAHAGIA itu kapan pun, di manapun dan dengan kondisi apapun.
KEBAHAGiAAN itu milik orang-orang yang dapat BERSYUKUR.
JIKA KAMU TIDAK MEMILIKI APA YANG KAMU SUKAI, MAKA BELAJAR SUKAILAH APA YANG KAMU MILIKI SAAT INI.
BERSYUKUR adalah suatu kemampuan yang BISA DIPELAJARI oleh siapapun & hasil dari pilihan cara kita memandang anugerah ALLAH SWT.

belajar dari seribu kelereng

sadar gak kalo kita sering kali melewatkan waktu berharga untuk keluarga kita? Kita sudah terlalu lelah beraktivitas di luar rumah, orang rumah cuma kebagian jatah ‘capek’ doang. Akhir pekan pun biasanya lebih kita pilih untuk habiskan bersama teman-teman, hang out. Gak ada waktu optimal buat ortu, saudara, pasangan hidup, dan anak.
Nah, Kisah di bawah ini Nida ambil dari http://kumpulanceritamotivasi.blogspot.com, mudah-mudahan bisa memotivasi kita untuk memberi waktu terbaik buat keluarga tercinta…

Aku keraskan suara radioku untuk mendengarkan suatu acara Bincang-bincang Sabtu Pagi. Aku dengar seseorang agak tua dengan suara emasnya. Ia sedang berbicara mengenai seribu kelereng kepada seseorang di telpon yang dipanggil “Tom”. Aku tergelitik dan duduk ingin mendengarkan apa obrolannya.
“Dengar Tom, kedengarannya kau memang sibuk dengan pekerjaanmu. Aku yakin mereka menggajimu cukup banyak, tapi kan sangat sayang sekali kau harus meninggalkan rumah dan keluargamu terlalu sering. Sulit kupercaya kok ada anak muda yang harus bekerja 60 atau 70 jam seminggunya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Untuk menonton pertunjukan tarian putrimu pun kau tak sempat”.

Ia melanjutkan : “Biar kuceritakan ini, Tom, sesuatu yang membantuku mengatur dan menjaga prioritas apa yang yang harus kulakukan dalam hidupku”. Lalu mulailah ia menerangkan teori “seribu kelereng” nya.
“Begini Tom, suatu hari aku duduk-duduk dan mulai menghitung-hitung. Kan umumnya orang rata-rata hidup 75 tahun. Ya aku tahu, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi secara rata-rata umumnya kan sekitar 75 tahun. Lalu, aku kalikan 75 ini dengan 52 dan mendapatkan angka 3900 yang merupakan jumlah semua hari Sabtu yang rata-rata dimiliki seseorang selama hidupnya. Sekarang perhatikan benar-benar Tom, aku mau beranjak ke hal yang lebih penting”.
“Tahu tidak, setelah aku berumur 55 tahun baru terpikir olehku semua detail ini,” sambungnya, “dan pada saat itu aku kan sudah melewatkan 2800 hari Sabtu. Aku terbiasa memikirkan, andaikata aku bisa hidup sampai 75 tahun, maka buatku cuma tersisa sekitar 1000 hari Sabtu yang masih bisa kunikmati”.

“Lalu aku pergi ke toko mainan dan membeli tiap butir kelereng yang ada. Aku butuh mengunjungi tiga toko, baru bisa mendapatkan 1000 kelereng itu. Kubawa pulang, kumasukkan dalam sebuah kotak plastik bening besar yang kuletakkan di tempat kerjaku, di samping radio. Setiap Sabtu sejak itu, aku selalu ambil sebutir kelereng dan membuangnya”.
“Aku alami, bahwa dengan mengawasi kelereng-kelereng itu menghilang, aku lebih memfokuskan diri pada hal-hal yang betul-betul penting dalam hidupku. Sungguh, tak ada yang lebih berharga daripada mengamati waktumu di dunia ini menghilang dan berkurang, untuk menolongmu membenahi dan meluruskan segala prioritas hidupmu”.
“Sekarang aku ingin memberikan pesan terakhir sebelum kuputuskan teleponmu dan mengajak keluar istriku tersayang untuk sarapan pagi. Pagi ini, kelereng terakhirku telah kuambil, kukeluarkan dari kotaknya. Aku berfikir, kalau aku sampai bertahan hingga Sabtu yang akan datang, maka Allah telah meberi aku dengan sedikit waktu tambahan ekstra untuk kuhabiskan dengan orang-orang yang kusayangi”.

“Senang sekali bisa berbicara denganmu, Tom. Aku harap kau bisa melewatkan lebih banyak waktu dengan orang-orang yang kau kasihi, dan aku berharap suatu saat bisa berjumpa denganmu. Selamat pagi!”

Saat dia berhenti, begitu sunyi hening, jatuhnya satu jarum pun bisa terdengar! Untuk sejenak, bahkan moderator acara itupun membisu. Mungkin ia mau memberi para pendengarnya, kesempatan untuk memikirkan segalanya. Sebenarnya aku sudah merencanakan mau bekerja pagi itu, tetapi aku ganti acara, aku naik ke atas dan membangunkan istriku dengan sebuah kecupan.
“Ayo sayang, kuajak kau dan anak-anak ke luar, pergi sarapan.”
“Lho, ada apa ini…?” tanyanya tersenyum.
“Ah, tidak ada apa-apa, tidak ada yang special,” jawabku, “Kan sudah cukup lama kita tidak melewatkan hari Sabtu dengan anak-anak? Oh ya, nanti kita berhenti juga di toko mainan ya? Aku butuh beli kelereng…”

Sobat Nida, kita tidak tahu berapa banyak ‘kelereng’ yang kita miliki, tapi yang pasti… jumlah kelereng itu akan selalu berkurang. Kapan terakhir kali kita mengecup punggung tangan ibu kita sambil menyatakan rasa sayang padanya? Kapan terakhir kali kita menyengaja kumpul bersama keluarga untuk berbagi cerita? Seberapa seringkah kita saling tidak peduli dengan kabar orangtua dan saudara-saudara? Bagaimana kalau jumlah ‘kelereng’ kita masih banyak tapi justru jumlah ‘kelereng’ merekalah yang sudah hampir habis?
Sob, yuk manfaatkan waktu agar ‘kelereng’ yang tersisa tidak terbuang percuma, sedangkan orang-orang yang kita kasihi membutuhkan perhatian kita!
 http://annida-online.com/artikel-6124-motivasi-dari-1000-kelereng.html

Wednesday, 5 August 2015

mainkan saja peranmu tugas kita hanya taat



Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika ijazah S1 sudah di tangan, teman-temanmu yang lain sudah berpenghasilan,m sedangkan kamu, dari pagi hingga malam sibuk membentuk karakter bagi makhluk yang akan menjadi jalan surga bagi masa depan. Mainkan saja peranmu, dan tak ada yang tak berguna dari pendidikan yang kau raih, dan bahwa rezeki Allah bukan hanya tentang penghasilan kan? Memiliki anak-anak penuh cinta pun adalah rezeki-Nya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?

Ketika pasangan lain mengasuh bersama dalam cinta untuk buah hati, sedang kau terpisah jarak karena suatu sebab. Mainkan saja peranmu, suatu hari percayalah bahwa Allah akan membersamai kalian kembali.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika nyatanya kondisi memaksamu untuk bekerja, meninggalkan buah hati yang tiap pagi melepas pergimu dengan tangis. Mainkan saja peranmu, ya mainkan saja, sambil memikirkan cara agar waktu bersamanya tetap berkualitas.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika katamu lelah ini seakan tiada habisnya, menjadi punggung padahal rusuk. Mainkan saja peranmu, bukankah semata-mata mencari ridha Allah? Lelah yang Lillah, berujung maghfirah.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika belahan jiwa nyatanya bukan seperti imajinasimu dulu, mainkan saja peranmu, bukankah Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untukmu? tetap berjalan bersama ridha-Nya dan ridhanya, untuk bahagia buah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika timbul iri pada mereka yang dalam hitungan dekat setelah pernikahannya, langsung Allah beri anugerah kehamilan, sedangkan kau kini masih menanti titipan tersebut. Mainkan saja peranmu dengan sebaik-sebaiknya sambil tetap merayu Allah dalam sepertiga malam menengadah mesra bersamanya.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika hari-hari masih sama dalam angka menanti, menanti suatu bahagia yang katamu bukan hanya untuk satu hari dan satu hati. Mainkan saja peranmu sambil perbaiki diri semata-mata murni karena ketaatan pada-Nya hingga laksana zulaikha yang sabar menanti Yusuf tambatan hati, atau bagai Adam yang menanti Hawa di sisi.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ketika ribuan pasangan pengantin mengharapkan amanah Ilahi, membesarkan anak kebanggaan hati, dan kau kini, membesarkan, mengasuh dan mendidik anak yang meski bukan dari rahimmu. Mainkan saja peranmu, sebagai ibu untuk anak dari rahim saudarimu.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ibrahim, melaksanakan peran dari Allah untuk membawa istri dan anaknya ke padang yang kering. Kemudian, rencana Allah luar biasa, menjadikannya kisah penuh hikmah dalam catatan takdir manusia.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai Nabiyullah Ayub yang nestapa adalah bagian dari hidupnya, dan kau dapati ia tetap mempesona, menjadikannya kisah sabar yang tanpa batas berujung surga.
Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Ya, taat. Bagai nabiyullah lainnya. Berkacalah pada mereka, dan jejaki kisah ketaatannya, maka taat adalah cinta.

Mainkan saja peranmu, tugasmu hanya taat kan?
Taat yang dalam suka maupun tidak suka.Taat yang bukan tanpa keluh, namun mengupayakan agar keluh menguap bersama doa-doa yang mengangkasa menjadikan kekuatan untuk tetap taat.
Mainkan saja peranmu, dalam taat kepada-Nya, dan karena-Nya.
Suka

kepada mereka yang ragu akan rezekinya


Kepada orang yang ragu akan rezekinya…..
Kepada seorang pemuda yang ragu melangkah maju untuk menikah, khawatir tidak bisa menghidupkan rumah tangga…….
Kepada orangtua yang membatasi anaknya hanya dua atau tiga saja, karena khawatir miskin….
Kepada siapapun yang bingung hidup… takut miskin,….
Kepada orang yang selalu mengeluh kesusahan hidup…. dan lain-lain.
Hasan Al-Basri berkata: Aku telah membaca di sembilan puluh tempat (90 kali disebutkan) di dalam Al Qur'an, bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan (mentaqdirkan) rezeki dan menjamin (mengaransi) rezeki itu untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada satu tempat “syeitan menakut-nakutimu akan kefakiran”, lantas, (apakah layak) kita ragu terhadap perkataan yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita mempercayai perkataan pembohong (hanya) di satu tempat?
Apakah setelah ini, kita masih ragu terhadap rezeki kita yang telah ditetapkan Allah untuk kita?
Bersemangatlah……, maju…. Langkahkanlah kaki anda untuk maju ke depan…..
Ustadz Muhammad Elvi Syam
(Hasan Al-Bashri adalah ulama tabi'in (generasi setelah sahabat), lahir pada tahun 21H)

bangun mimpimu



IF YOU DON’T BUILD YOUR DREAM, SOMEONE WILL HIRE YOU TO HELP YOU BUILD THEIRS


Dalam hidup, berapa banyak orang yang punya impian?
Dari sekian banyak yang punya impian, berapa banyak yang menuliskan impiannya?
Dari sekian banyak yang menuliskan impiannya, berapa banyak yang percaya dengan impiannya?
Dari sekian banyak yang percaya, berapa banyak yang fokus dan menikmati proses mewujudkan impiannya?
Sahabatku,
Lebih banyak orang yang percaya pada mimpi orang lain
Lalu memilih untuk mewujudkan mimpi orang itu, ketimbang menikmati proses mewujudkan mimpinya sendiri.
BUKTINYA:
Lebih banyak yang ingin jadi karyawan, dibandingkan jadi pengusaha.
Lebih banyak yang ingin mengikuti tren, bukan justru menciptakan tren kebaikan sendiri.
Lebih banyak yang senang dekat dengan orang hebat, tanpa mau berpikir untuk jadi orang hebat selanjutnya.
Lebih banyak yang Pede dengan mengekor karya orang lain, tanpa mau menciptakan karya orisinil sendiri.
MENGAPA?
Karena dalam perjalanan panjang mewujudkan mimpi, ada banyak rintangan yang datang
Tak jarang cemooh dan celaan justru datang dari orang-orang terdekat
Rayaun indah untuk berhenti berjuang,atau ujian-ujian lainnya.
"Bukan seberapa besar impian Anda, namun seberapa besar Anda yakin dengan impian Anda".
Jadi Sahabat pilih mana, Mewujudkan mimpi sendiri atau mewujudkan mimpi orang lain?

Setia Furqon Kholid