Saturday, 7 November 2015

kisah pemuda baik hati

Hari itu aku belanja di sebuah swalayan . Setelah mengambil segala barang yang ku butuhkan ,aku pun bergegas menuju antrian di kasir . Di depanku ada seorang pemuda dan di depan pemuda itu ada seorang ibu dengan 2 orang anaknya yang sedang menghitung belanjaan mereka di kasir . " total seluruhnya 145 ribu bu " gadis muda penjaga kasir tersenyum ramah setelah menjumlahkan seluruh barang belanjaan si ibu . Ibu itu segera membuka dompetnya ... begitu banyak uang recehan disana , ia lalu menghitungnya satu persatu dengan wajah tertunduk . Kedua anaknya berdiri memperhatikan ibu mereka sambil sesekali memegang tangannya, keduanya terlihat tidak sabar . Aku amati wajah si ibu pucat pasi ... terlihat jelas ia kebingungan sebab ternyata uang yang ada di dompetnya kurang . Ia mulai berfikir untuk mengembalikan sebagian barang belanjaan yang diambilnya ... ketika tiba2 saja ... pemuda di depanku membungkuk sambil memungut uang 50 ribuan dan menyodorkannya ke pada ibu itu : " hati2 bu kalau menghitung uang ... ini ada selembar uang ibu yang jatuh " ... si ibu yang bengong seperti tak percaya ... dengan tangan bergetar mengambil dan menerima uang itu ... dengan tatapan mata penuh syukur ia memandang pada si pemuda . Setelah membayar di kasir dengan gembira kedua anaknya menenteng kantong plastik belanjaan berlalu pergi . Pemuda itu membayar belanjaannya kemudian ia juga segera pergi ... aku tergesa2 menyusulnya ... setelah bertemu aku berkata : " aku tahu ... tadi engkau dengan sengaja menjatuhkan uangmu untuk engkau berikan pada ibu itu ... aku melihatmu karena aku berada tepat dibelakangmu ... demi ALLAH aku bertanya , bagaimana engkau bisa mendapat ide itu ?" ... si pemuda dengan santun menjawab : " Allah lah yang mengilhamkan itu padaku ... aku tidak ingin si ibu itu malu dihadapan kita dan anak2 nya ... karena itu ALLAH menggerakkan hatiku untuk spontan mengerjakan apa yang engkau lihat " .... subhanallah ... ternyata bila hati menginginkan kebaikan ... ALLAH akan membantu hamba NYA melakukan kebaikan itu ... sungguh ... kebaikan itu hanya mudah dilakukan bagi orang yang memang menginginkannya .... firman ALLAH :
فأما من أعطى و اتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى
From
Mifta juniadi

Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ

Dua belas tahun lalu, seorang wanita pergi kuliah di Prancis. Namun, dia harus bekerja sambil kuliah. Dia memperhatikan bahwa sistem transportasinya ternyata menggunakan sistem "otomatis", artinya Anda membeli tiket sesuai dengan tujuan melalui mesin. Setiap perhentian transportasi umum memakai cara "self-service" dan jarang sekali diperiksa oleh petugas. Bahkan pemeriksaan insidentil oleh petugas pun hampir tidak ada. Setelah dia menemukan kelemahan sistem ini, dengan kelicikannya, dia memperhitungkan bahwa kemungkinan tertangkap petugas karena tidak membeli tiket sangat kecil. Sejak itu, dia selalu naik transportasi umum tersebut dengan tidak membayar tiket. Dia bahkan merasa bangga atas kelicikannya. Dia juga menghibur diri karena dia anggap dirinya adalah mahasiswa miskin, dan kalau bisa harus hidup seirit mungkin. Namun, dia tidak menyadari bahwa dia sedang melakukan kesalahan fatal yang akan mempengaruhi karirnya.
Setelah 4 tahun berlalu, dia tamat dari sebuah kampus ternama dengan nilai yang sangat bagus. Ini semakin membuatnya penuh dengan kepercayaan diri. Dia mulai melamar kerja di beberapa perusahaan ternama di Paris dengan harapan besar akan diterima. Pada mulanya, semua perusahaan ini menyambut dia dengan hangat. Namun, berapa hari kemudian, semua perusahaan tersebut menolaknya untuk bekerja.
Kegagalan yang terjadi berulang kali tersebut membuatnya sangat marah. Dia mulai menganggap perusahaan-perusahaan ini rasis, tidak mau menerima warga negara asing. Akhirnya, dia memaksa masuk ke departemen tenaga kerja untuk bertemu dengan manajernya. Dia ingin tahu apa alasan semua perusahaan tersebut menolaknya bekerja. Ternyata, penjelasannya di luar persangkaannya.
Berikut ini adalah dialog mereka berdua:
Manajer: "Nona, kami tidak rasis, sebaliknya kami sangat mementingkanmu. Pada saat Anda melamar bekerja di perusahaan, kami terkesan dengan pendidikan dan pencapaian Anda. Sesungguhnya, berdasarkan kemampuan, Anda sebenarnya pekerja yang kami cari."
Wanita: "Kalau begitu, kenapa tidak ada perusahaan yang menerimaku bekerja?"
Manajer: "Karena kami memeriksa sejarahmu, ternyata Anda pernah tiga kali kena sanksi tidak membayar tiket saat naik transportasi umum."
Wanita: "Aku mengakuinya. Tapi masa sih karena perkara kecil ini maka perusahaan menolak pekerja yang mahir dan banyak sekali tulisannya yang terbit di majalah?"
Manajer: "Perkara kecil? Kami tidak menganggap ini perkara kecil. Kami perhatikan bahwa pertama kali Anda melanggar hukum, itu terjadi di minggu pertama Anda masuk negara ini. Petugas percaya dengan penjelasan bahwa Anda masih belum mengerti sistem pembayaran. Anda diampuni, tapi kemudian Anda tertangkap 2 kali lagi setelah itu."
Wanita: "Oh, karena saat itu tidak ada uang kecil di kantong saya."
Manajer: "Tidak, tidak. Kami tidak bisa menerima penjelasan Anda. Jangan anggap kami bodoh. Kami yakin Anda telah melakukan penipuan ratusan kali sebelum tertangkap."
Wanita: "Itu bukanlah kesalahan yang mematikan. Kenapa harus sebegitu serius? Lain kali saya akan berubah, masih bisa bukan?"
Manajer: "Saya tidak anggap demikian. Perbuatan Anda membuktikan dua hal:
1. Anda tidak mengikuti peraturan yang ada. Anda pandai mencari-cari kelemahan dalam peraturan dan memanfaatkannya untuk kepentingan diri sendiri.
2. Anda tidak bisa dipercaya. Banyak pekerjaan di perusahaan kami tergantung pada kepercayaan. Jika Anda diberikan tanggung jawab atas penjualan di sebuah wilayah, maka Anda akan diberikan kuasa yang besar. Demi ongkos, kami tidak sanggup memakai sistem kontrol untuk mengawasi pekerjaanmu. Perusahaan kami mirip dengan sistem transportasi di negeri ini. Oleh sebab itu, kami tidak bisa memakai Anda. Saya berani katakan, di negara kami, bahkan di seluruh Eropa, tidak ada perusahaan yang mau memakai Anda."
Pada saat itu, wanita ini seperti terbangun dari mimpinya dan merasa sangat menyesal. Perkataan manajer yang terakhir telah membuat hatinya gentar.
Moral dan etika bisa menutupi kekurangan IQ atau kepintaran. Tetapi IQ atau kepintaran bagaimanapun tidak akan bisa menolong etika yang buruk.
Kiriman dari sahabat Alfathri Aldin
Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari cerita tersebut
By : aryginanjar.com

tips keren seputar perdapuran

Tips Keren Seputar Dunia Perdapuran.

1. Agar telur rebus tidak susah dikupas, jangan lupa celupkan kedalam air es saat telur tersebut baru matang/masih panas.

2. Agar cabe tidak meletup-letup ketika digoreng, jangan lupa tusuk atau lukai sedikit cabe tersebut dengan pisau sebelum digoreng.

3. Saat mencuci kangkung, arnong/selada air atau genjer serta tanaman air lainnya jangan lupa dibilasan pertama bubuhkan sesendok garam lalu diamkan sejenak agar binatang-binatan kecil yang mungkin hidup dibatang dan daunnya mati. Biasanya yang hobi nongkrong disitu lintah, keong, ulat dan cacing air (brokoli dan kembang kol juga sering ada ulatnya, jadi jangan lupa pula gunakan cara ini).

4. Agar tahu lebih awet ketika disimpan, cuci bersih dengan air, kemudian siram dengan air panas, setelah itu lap dengan tisu dapur, simpan didalam tupperware, tutup rapat, kemudian letakkan didalam kulkas. Insyaa Allah bisa tahan hingga 1 minggu.

5. Untuk mengetahui telur busuk atau tidak bisa gunakan tes apung air, jika mengapung diatas air itu tandanya telur sudah busuk.

6. Ketika akan mengocok telur untuk berbagai macam kue, pastikan telur dalam keadaan suhu ruang (bukan dingin karena baru keluar dari kulkas, hal ini bisa membuat adonan tidak mengembang).

7. Jika menyimpan sayuran di dalam kulkas, jangan pakai tas plastik kresek, tapi gunakan koran dan atau majalah bekas. Sebab dengan cara ini bisa mencegah air embun sayuran menggenang yang bisa mengakibatkan sayur cepat busuk

8. Untuk menetralisir bau dalam kulkas, belah kentang dan letakkan di rak kulkas, kentang bisa menghilangkan bau tak sedap dalam kulkas.

9. Agar ikan tidak lengket dipenggorengan, gunakan wajan yang khusus untuk menggoreng, jangan sekali-kali menggoreng ikan diwajan yang pernah atau sering dipakai untuk menumis, sebab sudah pasti ikan goreng akan lengket dan hancur ketika dibalik, bisa juga olesi sedikit garam ke wajan sebelum dituangi minyak goreng.

10. Untuk menghilangkan rasa panas ditangan akibat terlalu lama berkontak dengan cabe atau sambal (kata orang jawa tangan wedhangen), bisa dilakukan dengan cara cuci bersih tangan dengan sabun sampai 2 atau 3 kali, kemudian di lap, dan masukkan tangan kedalam beras, benam dan remas-remas beras sebentar. Fiuuhhhf, dijamin rasa panas ditangan akan hilang.
smile emotikon

11. Agar mata tidak pedih ketika mengiris bawang merah, letakkan wadah berisi garam disamping talenan, dengan cara ini Insyaa Allah ampuh menghindarkan mata dari rasa pedih.

12. Agar beras tidak dikunjungi kutu beras, letakkan sebungkus plastik yang berisi beberapa sendok kopi bubuk, kemudian beri sedikit lubang pada plastiknya. Kutu beras tidak suka aroma kopi. Jadi Insyaa Allah dia tidak akan berani datang ke beras.

13. Jika peralatan masak kusam akibat noda dari bumbu yang berwarna seperti kunir/kunyit, atau panci yang terlalu sering dibuat merebus air jadi kekuningan. Segera ambil sesendok baking soda, beri sedikit air, gosok-gosokkan ke panci, diamkan sebentar, lalu bilas. Jika masih ada noda bisa diulang lagi.

14. Agar kembang kates, daun kates/pepaya dan pare tidak terlalu pahit ketika dimasak, baiknya sebelum ditumis di rebus sebentar di air rebusan
daun jambu biji (caranya, rebus air, ambil beberapa lembar daun jambu biji, tunggu hingga mendidih, masukkan daun jambu, tunggu +- 5 menit, masukkan kembang/daun pepaya/pare) diamkan sebentar, matikan api. Baru setelah itu tiriskan dan siap untuk dimasak sesuai selera (kalau daun pepayanya untuk kulupan, bisa direbus hingga matang bersama daun jambu biji).

15. Agar tempe tidak mudah busuk, jangan simpan didekat garam.

16. Jika menyimpan daging di freezer, pastikan daging tidak keluar masuk freezer berulangkali, karena hal ini bisa membuat bakteri berkembangbiak. Sebaiknya potong-potong dulu dagingnya sesuai dengan perkiraan kebutuhan per tiapkali masak dan simpan di plastik kecil-kecil secara terpisah, sehingga ketika akan mengambil, bisa ambil seperlunya saja.

Semoga bermanfa'at.

percakapan gus mus dengan malaikat

Copas dari forum Gus Dur Mania

Kiyai Bisri Mustofa ingin, saat memasuki alam akhirat nanti dalam keadaan benar-benar siap. Karena itu beliau “merancang macam-macam skenario” untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Diantaranya adalah skenario apabila malaikat mencegatnya di pintu sorga.
MALAIKAT : Sampeyan nggak bisa masuk!
KIYAI BISRI : Kenapa?
MALAIKAT : Sorga ini disediakan untuk muttaqin… sampeyan tidak termasuk.
KIYAI BISRI : (Garuk-garuk kepala) Waduhh…
MALAIKAT : Sekarang sampeyan saya bawa ke neraka!
KIYAI BISRI : Lho! Lho! Lho! Nanti dulu… nanti dulu… saya ini kiyai je!
MALAIKAT : Nggak perduli! Kalau nggak bisa ke sorga ya berarti ke neraka! Nggak ada tempat lain!
KIYAI BISRI : Nanti dulu… nanti dulu… sareh… Ya saya akui kalau sorga ini disediakan untuk muttaqin… saya juga ngrumangsani kalau saya ini belum… Yah… gimana lagi… tapi ya jangan grusa-grusu begitu to! Dirembug dulu… dirembug dulu… sama teman sendiri itu dirembug dulu… gimana baiknya gitu lho!
MALAIKAT : Dirembug dirembug gimana?
KIYAI BISRI : Begini lho… kalau sekarang saya sampeyan cegati ya sudah… saya trimo… tapi ‘kan sampeyan tahu, ada satu hak saya yang belum dikasihkan…
MALAIKAT : Hak apa lagi?
KIYAI BISRI : Hak berkumpul dengan guru saya, Kiyai Kholil Harun.
MALAIKAT : Lha kok bisa?
KIYAI BISRI : Ya bissa to! Saya ini dari kecil kehilangan bapak… terus dipelihara guru saya. Tadinya bodoh, dipinterkan… malah akhirnya dijadikan menantu…
MALAIKAT : Nggak ada urusan! Itu bukan jaminan!
KIYAI BISRI : Lho bukan gitunya… tapi saya ini ‘kan terus mencintai guru saya!
MALAIKAT : Memangnya kenapa kalau sudah gitu?
KIYAI BISARI : Lha kalau cinta ya kumpul to!
MALAIKAT : Kata siapa?
KIYAI BISRI : Welllhooo… ya Kanjeng Nabi to! Yuhsyarul mar-u ma’a man ahabb… masak sampeyan nggak tahu?
MALAIKAT : (pikir-pikir) Ya sudah… sekarang dimana guru sampeyan?
KIYAI BISRI : Ya ayo… kita cari…
Maka didapatilah Kiyai Kholil Harun sedang duduk-duduk dengan banyak orang di sebuah taman yang luas dan indah sekali dan diantara orang-orang itu ada sosok yang berpendar-pendar cahayanya menyilaukan mata…
KIYAI BISRI : Lha itu apa!
MALAIKAT : Mana?
KIYAI BISRI : Itu yang guwagah ngguwantheng itu!
MALAIKAT : Yang disitu semuanya gagah-gagah nggantheng-nggantheng gitu…
KIYAI BISRI : Ck… iittu lhooo yang sedang jagongan sama Kiyai Abdul Muhaimin Lasem, sama Kiyai Hasyim Asy’ari, sama Syekh Umar Hamdan…
MALAIKAT : Terus sampeyan maunya kumpul disitu gitu?
KIYAI BISRI : Lha iyya to? Hak je… hak je!
MALAIKAT : Itu kan sorga?
KIYAI BISRI : Ya gimana lagi… bejanya awak saya…. Bukannya saya minta sorga lho iniii! Enggak lhooo! Saya cuma minta kumpul guru saya lho! Cuma minta hak saya lhooo! Gimana?
MALAIKAT : (Garuk-garuk kepala) Ya sudah ya sudah… sana…
(Catatan: Skenario ini disadur dari transkrip salah satu ceramah pengajian Kiyai Bisri Mustofa)

lihatlah dari sudut pandang yang berbeda

Lelaki yang gelisah (kisah yang menyentuh)

Dear All,
Rasanya ini baik untuk direnungkan setiap kita yang merasa "berkecukupan" dan selalu "dimanja" oleh Tuhan.
-------------------------------------------------------------------------------- Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.
Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.
Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?
Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.
Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.
Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.
* * *
Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.
Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.
Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?
Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini: "Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.
Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.
Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.
Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?
Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.
Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.
Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.
Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.
Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."
Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.
Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.
Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.
Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.
Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.
Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

ANAK KECIL ITU ADALAH GURU KEHIDUPANKU...


 ANAK KECIL ITU ADALAH GURU KEHIDUPANKU...


Tak tahan air mataku menetes ...
Sesudah jumatan aku masih duduk di teras mesjid di salah satu kompleks sekolah.
Jamaah mesjid sudah sepi, bubar masing-masing dengan kesibukannya.
Seorang nenek tua menawarkan dagangannya, kue traditional. Satu plastik harganya lima ribu rupiah.
Aku sebetulnya tidak berminat, tetapi karena kasihan aku beli satu plastik.
Si nenek penjual kue terlihat letih dan duduk di teras mesjid tak jauh dariku. Kulihat masih banyak dagangannya.
Tak lama kulihat seorang anak lelaki dari komplek sekolah itu mendatangi si nenek. Aku perkirakan bocah itu baru murid kelas satu atau dua.
Dialognya dengan si nenek jelas terdengar dari tempat aku duduk.
"Berapa harganya Nek?"
"Satu plastik kue Lima ribu, nak", jawab si nenek.
Anak kecil itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari kantongnya dan berkata :
"Saya beli 10 plastik, ini uangnya, tapi buat Nenek aja kuenya kan bisa dijual lagi."
Si nenek jelas sekali terlihat berbinar2 matanya : "Ya Allah terima ksh bnyk Nak. Alhamdulillah ya Allah kabulkan doa saya utk beli obat cucu yg lagi sakit." Si nenek langsung jalan.
Refleks aku panggil anak lelaki itu.
"Siapa namamu ? Kelas berapa?"
"Nama saya Radit, kelas 2, pak", jawabnya sopan.
"Uang jajan kamu sehari lima puluh ribu?'"
" Oh .. tidak Pak, saya dikasih uang jajan sama papa sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan, karena saya juga bawa bekal makanan dari rumah."
"Jadi yang kamu kasih ke nenek tadi tabungan uang jajan kamu sejak hari senin?", tanyaku semakin tertarik.
"Betul Pak, jadi setiap jumat saya bisa sedekah Lima puluh ribu rupiah. Dan sesudah itu saya selalu berdoa agar Allah berikan pahalanya untuk ibu saya yang sudah meninggal. Saya pernah mendengar ceramah ada seorang ibu yang Allah ampuni dan selamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti, Pak", anak SD itu berbicara dengan fasihnya.
Aku pegang bahu anak itu : " Sejak kapan ibumu meninggal, Radit?"
"Ketika saya masih TK, pak"
Tak terasa air mataku menetes : "Hatimu jauh lebih mulia dari aku Radit, ini aku ganti uang kamu yg Lima puluh ribu tadi ya...", kataku sambil menyerahkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangannya.
Tapi dengan sopan Radit menolaknya dan berkata : "Terima kasih banyak, Pak... Tapi untuk keperluan bapak aja, saya masih anak kecil tidak punya tanggungan... Tapi bapa punya keluarga.... Saya pamit balik ke kelas Pak".
Radit menyalami tanganku dan menciumnya.
"Allah menjagamu, nak ..", jawabku lirih.
Aku pun beranjak pergi, tidak jauh dari situ kulihat si nenek penjual kue ada di sebuah apotik. Bergegas aku kesana, kulihat si nenek akan membayar obat yang dibelinya. Aku bertanya kepada kasir berapa harga obatnya.
Kasir menjawab : " Empat puluh ribu rupiah.."
Aku serahkan uang yang ditolak anak tadi ke kasir : " Ini saya yang bayar... Kembaliannya berikan kepada si nenek ini.."
"Ya Allah.. Pak..."
Belum sempat si nenek berterima kasih, aku sudah bergegas meninggalkan apotik... Aku bergegas menuju Pandeglang menyusul teman-teman yang sedang keliling dakwah disana.
Dalam hati aku berdoa semoga Allah terima sedekahku dan ampuni kedua orang tuaku serta putri tercintaku yang sudah pergi mendahuluiku kembali kepada Allah.
Semoga bermanfaat !!!@@.

Thursday, 5 November 2015

aku belajar

- AKU BELAJAR   ​

Aku belajar lebih banyak diam
drpd lbh banyak bicara...

Aku belajar bersabar
dari sebuah kemarahan...

Aku belajar mengalah
dari sebuah keegoisan...

Aku belajar tersenyum
dari suatu kesedihan....

Aku belajar tegar
dari suatu kehilangan...  

Hidup adalah BELAJAR.....  
Belajar bersyukur meski tak puas...
Belajar ikhlas meski tak rela....
Belajar taat meski berat...
Belajar memahami meski tak sehati...
Belajar sabar meski terbebani...
Belajar memberi meski tak seberapa...
Belajar mengasihi meski tersakiti....
Belajar tenang meski gelisah....
Belajar percaya meski susah....
Belajar tabah meski cobaan menerpa...

​Aku belajar....
bahwa tidak selamanya hidup ini indah,
kadang...
ALLAH menyapaku melalui derita.
Tetapi aku tahu, bahwa IA
tidak pernah meninggalkanku,
sebab itu...
aku belajar menikmati hidup
dengan bersyukur.  

Aku belajar....
bahwa tidak semua yang aku harapkan
akan menjadi kenyataan,
kadang...
ALLAH membelokkan rencanaku.
Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik
dari yang kurencanakan,
sebab itu...
aku belajar menerima semua itu
dengan sukacita.  

Aku belajar....
bahwa cobaan itu pasti datang
dalam hidupku.
Aku tak mau dipengaruhi setan
utk marah dan emosi,
aku tak mau menyalahkan orang lain,
Juga tidak mungkin berkata
"tidak adil ALLAH".
Karena aku tahu bahwa semua itu
tidak akan melampaui kekuatanku,
sebab itu aku belajar menghadapinya
dengan sabar.  

Aku belajar....
bahwa tidak ada kejadian
yang harus disesali & ditangisi,
karena....
semua rancanganNYA indah bagiku.

Maka dari itu..
aku belajar bersabar,
bersyukur & bersukacita
dalam segala perkara.
Karena semua itu menyehatkan jiwa
dan menyegarkan hidupku...  

Saudaraku...

• Ketika "Kaki"
Sudah tak kuat berdiri...
"BERSIMPUHLAH".

• Ketika "Tangan"
sudah tak kuat menggenggam...
"LIPATLAH"

• Ketika "Kepala"
sudah tak kuat ditegakkan...
"MENUNDUKLAH"

• Ketika "Hati"
sudah tak kuat menahan kesedihan...
"MENANGISLAH.  

• Ketika "Hidup"
sudah tak mampu untuk dihadapi...
"BERDOALAH"  

ALLAH selalu setia bersama kita...
dan apa saja yang kamu minta
dalam DOA dengan penuh keyakinan,
pasti Ia akan menerimanya...  

ALLAH mendengar
Lebih dari yang kau katakan...

ALLAH menjawab
Lebih dari yang kau minta...

ALLAH memberi
Lebih dari yg kau inginkan...  

Karena...
di belakangmu ada kekuatan  
yang tak terhingga...

di hadapanmu ada kemungkinan
tanpa batas...

di sekitarmu ada kesempatan
yang tiada akhir...

Lebih dari itu, di atasmu ada ALLAH
yang selalu menyertaimu...

 ❤❤ Ingatlah saudara-ku tercinta...
Cinta ALLAH padamu abadi,
seperti lingkaran,
tak berawal & tak berakhir... ❤💕