Sunday, 15 March 2015

PARENTING YOUR CHILDREN

Umi Bijaksana
Seminar Parenting
Tema : Dua Gaya Mendidik Populer
Narasumber : Elly Risman, Psi.

1. Ada dua gaya mendidik populer. Gaya Helikopter dan Gaya Sersan Pelatih. Keduanya tidak bagus untuk perkembangan anak.

2. Gaya helikopter: mengawasi anak terlalu berlebihan, menganggap anak seperti raja yang tidak boleh “disenggol” sedikitpun

3. Gaya helikopter: tiada hari tanpa perlindungan, anak menemui kesulitan sedikit saja … bantuan langsung datang dan orangtua sangat tidak tegaan

4. Akibat gaya helikopter jika terbawa sampai anak besar: nyogok sekolah terbaik, mencarikan kerja untuk anak, anak berkemah ditengokin

5. Biasanya helicopter parents selalu berdalih ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Padahal yang terbaik itu bukan diwujudkan dengan membelikan feeding set, stroller, atau barang-barang termahal

6. Gaya sersan pelatih: selalu mengatur, anak tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena semuanya sudah diputuskan orangtua

7. Gaya sersan pelatih dan helikopter mungkin terlihat bekerja dengan baik ketika anak masih kecil, tapi akan bermasalah di kemudian hari

8. Banyak orangtua yang menerapkan dua pola asuh tersebut atas nama cinta. Padahal parenting itu bukan untuk jangka pendek, harus pikirkan dampak jangka panjangnya

9. Anak = pinjaman, dititipkan Tuhan untuk kebahagiaan, kesenangan, dan juga ujian kita. Jadi harus kita yang mengasuh secara total, bukan “diekspor”.

10. Sekarang banyak orangtua mengalihkan tugas pengasuhan ke orang lain, dari mulai babysitter, nenek, guru di sekolah sampai guru mengaji.

11. Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak permisif (semua boleh), cinta yang kuat untuk membiarkan anak berbuat salah dan menjalani konsekuensi

12. Pengasuhan yang efektif: cinta yang tidak mentolerir tingkah laku yang tidak terpuji.

13. Kalau anak menangis karena mainan direbut temannya, jangan dialihkan dengan memberi mainan lain karena itu mengajarkan anak untuk menghindari masalah

14. Sebaiknya anak yang merebut diharuskan untuk mengembalikan mainannya. Anak kita perlu diajarkan untuk mempertahankan haknya

15. Masalah besar orangtua sekarang dengan anak mulai umur 7 tahun: tidak bertanggung jawab, manja, pemalas, dan melawan karena kecilnya salah asuh

16. Kalau anak mau memakai baju yang tidak pas padu padannya kita selalu menyuruhnya ganti karena kita malu pada orang lain. Padahal parenting is never about us.

17. Peduli dengan anak bukan berarti melindungi dari semua kesalahan dalam proses berkembang. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar

18. Tanggung jawab tidak diajarkan tapi harus di-CONTOH-kan. Kalau mengharuskan anak membereskan mainannya, kita contohkan dengan membereskan barang atau bekas masak sendiri

19. Tanggung jawab membutuhkan kesempatan. Kalau semuanya disediakan dan terlalu mudah, kapan anak akan mendapat kesempatan untuk belajar tanggung jawab?

20. Berikan anak pilihan dan batasan dari sedini mungkin. Proses pengambilan keputusan adalah momen yang sangat berharga

21. Anak harus dicontohkan beberapa macam tanggung jawab. Terhadap Tuhan, diri sendiri, keluarga, alam, dan masyarakat

22. Anak yang bertanggung jawab akan tumbuh harga dirinya, lebih percaya diri, berprestasi, mandiri, dan mengerti konsekuensi

23. Contoh kecil: kita dapat mengajak anak untuk memilih sendiri menu sarapannya untuk besok, biarkan mereka memiliki kontrol

24. Anak belajar dari apa yang dia lihat, dengar, dan rasakan

25. Tiga kaki konsep diri yang baik: merasa dicintai sekitar, yakin punya kemampuan dan merasa mampu mengontrol hidup sendiri

26. Jangan mengambil alih proses pembelajaran anak seperti mengancingkan bajunya, menalikan sepatunya supaya cepat selesai

27. Kasihan harga dirinya nanti ketika sudah TK atau SD tapi belum bisa mengancingkan bajunya sendiri

28. Biarkan anak melakukan kesalahan asal tidak berbahaya, tekankan kekuatan yang dimilikinya, hindari mengkritik, dan melindungi

29. Bermusyawarahlah dengan anak, kalau anak melakukan kesalahan jangan dihancurkan lagi harga dirinya

Pertanyaan :
Terkait dengan point 11...
kedua putri saya kalau sudah main berdua (becanda/guyonan) sampai saling tendang2an kaki, saling pukul... bagaimana ya agar tak terulang?
saya sering sekali bilang kepada putri saya "boleh becanda nak... tapi kalau pake pukul2 itu bukan becanda tapi nyakitin.."
Tapi sepertinya kakak dan adik belum bisa melakukan...
Salah di sayakah?
atau ucapan saya yg tak dimengerti anak2 (kk 4th, adik 2,5 th)?

Jawaban :
Anak di bawah 7 tahun memang belum punya tanggungjawab moral, mereka sangat ego sentris, dirinya pusat semesta, sangat suka bermain dan meniru, sensomotoriknya haus untuk disalurkan, ini bagus sebagai pertanda fitrah belajarnya tumbuh dan sehat. Walaupun dinasehatin macam2 juga gak paham, pasti diulang2 lagi besoknya, kecuali tdk sabaran lalu dimarahi atau dipaksa dengan keras keduanya, pasti berhenti. Tapi fikirkan resiko kejiwaannya.
Perihal suka pukul2an, kiranya biasa aja, anak2 memang suka begitu, sepanjang tidak berbahaya, seru pastinya, mereka gak berniat menyakiti kok. Jadi dikasih sarung tangan aja atau pakai guling empuk yang tidak berbahaya. Nanti juga bosen sendiri. Kalau dilarang dengan cara paksa nanti jadi keinginan terpendam untuk mudah memukul.
Mungkin juga ada yang ditiru, misalnya televisi, acara smack down atau lainnya. Nah ini hati2 karena bisa berbahaya. Maka harus dialihkan ke hal lain yang positif, misalnya main kuda2an sama ayahnya, atau perahu2an dengan sprei sebagai ombaknya. Jadilah orangtua yang kreatif. Jangan fokus dengan pukul2annya, fokuslah pada semangat mereka untuk bermain dan belajar.

No comments:

Post a Comment