Saturday, 23 January 2016

tentang harapan

Ada saatnya kita harus melepaskan harapan... kadang-kadang harapan adalah pengalih perhatian.

Sekejap kita mendadak buta membaca peta hidup kita sendiri: Kemana harus melangkah? Bagaimana harus melangkah? Dan kita berkawan rasa asing yang mengguncangkan.

Tapi, bukankah harapan-harapan memang tak pernah tergambar pada peta manapun?

Dalam sedih dan putus asa, mengapa seketika kita menjadi manusia paling tolol sedunia yang berharap tersesat di tengah hutan lalu kelaparan, tertimpa reruntuhan saat gempa bumi paling hebat, tertabrak kereta api hingga mati, atau apa saja marabahaya yang paling gila?

Demikian tolol kita yang ingin tenggelam dalam kesedihan-kesedihan, kita yang percaya diri berlebihan dengan merasa sanggup untuk sampai pada titik terendah dari sebuah penderitaan—benarkah kita bisa melampaui kesedihan manapun, hingga kosakata bernama derita-luka-lara-nestapa-bahaya tak lagi memberikan akibat apa-apa pada kehidupan kita? Aku menyangsikannya. Sebab Tuhan tak pernah berlebihan, cobaan berat hanya diberikan kepada mereka yang kuat. Dan Tuhan tak akan membebankan sesuatu melampaui kesanggupan kita menjalaninya...

Kalau kematianku akan membukakan matanya dan membuatnya mengerti, aku ingin pergi...“ katamu. Lalu kau segera mencari cara untuk pura-pura ingin bunuh diri, barangkali agar dunia kasihan padamu? Ah, kalaupun kau sungguh-sungguh ingin mati, apakah masalah dan penderitaan akan selesai setelah kau pergi?

Aku menyangsikannya.

Percayalah, kesedihan adalah hadiah—agar pada saatnya kita dihibur dengan cara paling membahagiakan. Seringkali kita memang dibuat tak mengerti sebab kita memang tak perlu mengerti... sering kali hidup memang harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan...

Tapi, percayalah pada waktu: Semua pasti berlalu, yang tersisa tinggal kenangan...

No comments:

Post a Comment