Saturday, 7 November 2015

Tak Semuanya Untukmu

"Tak semuanya untukmu"


Hari ini ada kejadian luar biasa. Saya bisa duduk di kereta yang saya naiki dari Bogor...
Yang luar biasa bukan saya. Yang luar biasa adalah keretanya. Di luar kebiasaan agak telat datang dari dipo. Di luar kebiasaan pintunya berhenti tepat di depan saya berdiri...
Tapi entah mengapa, karena luar biasa, jadi ada rasa aneh yang tidak biasa...
Kenapa saya bisa duduk? Biasanya tidak. Pasti ada skenario Allah yang indah...
Pertanyaan tersebut terus hadir diiringi keyakinan akan ada sesuatu namun tak tahu itu apa.
Lalu jawabannya hadir pada satu stasiun setelah Bogor...
Jawabannya ada pada seorang ibu dan anak yang naik di stasiun Cilebut dan tidak mengarah ke bangku prioritas. Dia mengarah ke diriku dengan pandangan yang seakan berkata, "Ini jawaban atas pertanyaanmu".
Ya, Allah lah yang membuat aku duduk untuk kemudian membagi rizki tersebut kepada ibu dan anaknya.
Tak semua untukmu...
Apa yang ada pada dirimu, apa yang kau rasakan, apa yang kau miliki memang sepenuhnya bukan milikmu...
Ketika kau memiliki pekerjaan yang lebih baik dibandingkan rekanmu yang lain, artinya ada tuntutan prestasi yang harus kau berikan dibanding rekanmu yang lain.
Ketika jabatanmu lebih baik dibandingkan yang lain, artinya ada kontribusi yang harus kau lakukan dibanding rekanmu yang lain.
Ketika begitu banyak harta dan kesenangan yang Allah titipkan kepadamu, artinya ada bagian yang banyak juga untuk para anak yatim dan fakir miskin.
Ketika gelar akademikmu lebih banyak dibandingkan yang lain, artinya ada ilmu yang harus kau bagi kepada yang lain agar ilmu tetap hidup dan bermanfaat.
Dan ketika buah hatimu lebih banyak dibanding yang lain, artinya lebih banyak waktu yang harus kau beri untuk menyayangi dan mendidik mereka.
Tak semuanya untukmu...
Bahkan ketiadaan yang ada padamu pun tak semuanya untukmu...
Ketika jabatanmu belum setinggi yang lain, artinya ada rizki orang lain yang lebih sesuai dan dibutuhkan melalui jabatan tersebut.
Ketika kau menaiki kendaraan umum karena Allah belum titipkan kendaraan pribadi untukmu, artinya ada rizkimu yang menjadi bagian rizki supir angkot, tukang ojek atau tukang becak.
Ketika rizkimu tak begitu cukup untuk makan di restoran mewah, artinya ada rizkimu yang menjadi bagian para pemilik warteg dan pedagang kaki lima yang sangat berharap dengan kedatanganmu di warungnya.
Ketika kau tak bisa belanja bulanan di supermarket yang lengkap karena rizkimu tidak bulanan, artinya ada pedagang kelontong sekitarmu yang mengharapkan sebagian dari rizki harian yang kau dapatkan.
Ketika buah hati tiada hadir bertahun-tahun, artinya ada rizki, perhatian dan kasih sayang yang menjadi bagian saudara2mu atau mungkin anak2 jalanan yang sedang kau bina.
Tak semuanya untukmu...
Karena pada hakikatnya semua itu adalah titipan yang harus dipertanggungjawabkan. Dari mana kau dapatkan dan untuk apa kau habiskan...
-------------
Kembali ke duduk di kereta...
Pertanyaan menggelitik timbul ketika melihat penumpang lain yang bernasib sama di Bogor dan hingga Manggarai masih tertidur lelap. Bukankah "itu" semua untuknya? Kenapa kau tak bersikap yang sama?...
Wallahu a'lam...
Bisa jadi Allah berikan kantuk untuknya agar dirinya pulih atas tenaga yang dia berikan kemarin dalam mencari nafkah halal bagi keluarganya...
Atau bisa jadi dia tak peduli dengan kondisi sekitar sehingga Allah akan ambil rizki yang dia miliki untuk orang lain dengan cara yang lain...
Wallahu a'lam...
Kita hanya perlu meyakini bahwa apa yang ada pada dirimu memang tak semuanya untukmu...

No comments:

Post a Comment