Tuesday, 4 August 2015

belajar dari secangkir kopi




BELAJAR DARI SECANGKIR KOPI
Seorang wanita bernama Dedo, seorang ketua perkumpulan al-ifadah berkata:
Aku pandangi secangkir kopi yang ada di hadapanku, lalu dengan penuh perenungan aku hayati dan dalami ibrah-ibrah yang ada padanya.
Betul bahwa yang ada di hadapanku hanyalah secangkir kopi, akan tetapi, saat aku merenung, ternyata ia tidak hanya secangkir kopi, ada sekian banyak “filsafat-filsafat” yang terkandung di dalamnya.
Saya mencoba mengaitkan antara secangkir kopi itu dengan perilaku manusia, dan – Alhamdulillah – ada banyak point bisa saya tuliskan di sini, diantaranya:
1. Saat sepintas aku pandangi cangkir kopi itu, bentuk phisik dan penampilan lahiriahnya tidaklah menarik, terutama warna kopi yang ada dalam cangkir tersebut, namun, saat aku cicipi dia, dan sedikit demi sedikit aku seruput, rupanya kelezatan dan kenikmatan “luar biasa” aku dapatkan, dan rasanya, tidak relah kalau isi secangkir itu akan segera habis.
Begitulah sosok lahiriah dan penampilan seseorang, bisa jadi tampang dan rupanya tidak menarik perhatian kita, namun, setelah ia berbicara denganmu, mulailah “kenikmatan-kenikmatan” kamu rasakan, dan rasanya tidak ingin ada akhir dari pembicaraannya dan berharap agar terus menerus ia berbicara dan jarum jam tidak bergerak dari posisinya.
2. Ada juga cangkir kopi yang secara lahiriah bentuk, warna dan rupanya sangat menawan, dan anda pun membayangkan, mungkin kopinya juga luar biasa rasanya dan segera anda ingin menyeruputnya, menikmati sedikit demi sedikit kopinya, namun, begitu lidah anda mencicipinya, segera anda ingin meludahkan dan menumpahkannya, betapa tidak, kopi itu terlalu pahit, campur getir dan … suangat tidak enak.
Begitulah sebagian dari manusia, secara lahiriah, ia sangat menarik, tampan, guanteng, perlente, necis dan … professional, atau cantik nan menawan. Rasanya kita ingin segera dekat dengannya, bergaul, mengobrol, mendengarkan kalimat-kalimatnya dan “petuah-petuah”-nya, namun, begitu kita mulai mendengarnya, terbukalah bahwa ternyata otaknya cupet dan dangkal, wawasannya cekak dan ecek-ecek, pandangannya sempit, dan kita pun berandai-andai kalau saja tidak pernah bertemu dengannya dan tidak pernah mendengarnya sama sekali, atau minimal, kita pun ingin segera kabur meninggalkan forumnya.
3. Ada juga sebagian orang yang kecanduan kopi, setiap saat ingin menenggak kopi dan nyaris tidak mampu berpisah dengannya, ibaratnya, ia telah tenggelam dalam “kenikmatan kopi” dan “tanpa hidup tanpa kopi”, seakan di mana ada berita tentang kopi enak, niscaya kita akan dengan mudah menemukan sosok itu di sana, dan di mana pun kita melihat sosok tersebut, kecuali bersamanya ada secangkir kopi!!!
Begitu juga dalam pergaulan kita dengan sesama, terkadang (kalau bukan sering) kita dapati seseorang yang tidak dapat berpisah dengan kekasihnya, seakan keduanya sepasang kekasih yang tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang, kemana pun yang satu pergi, pasti yang satunya ada di sisinya, dan saat anda paksakan keduanya berpisah, seakan masing-masing terkena penyakit gila karena tidak mampu berpisah dengan pasangannya.
4. Ada juga yang mampu melihat secangkir kopi, namun ia tidak mampu menikmatinya, sebab ia tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Sayangnya, juga tidak ada yang besedekah secangkir kopi kepadanya. Karenanya, ia mencukupkan diri menikmati aromanya, menikmati pula pemandangan orang-orang yang menikmatinya, lalu saat mereka pergi meninggalkan forum kopi tersebut, ia pun ikut pergi bersama mereka.
Hal itu bisa jadi terjadi di alam hubungan antar sesama manusia. Ada orang-orang tertentu yang mencintai orang lainnya dari jarak jauh dan ia tidak mampu mendekati fans-nya dalam jarak dekat, sebab ia tidak memiliki kemampuan untuk mendekat, atau tidak memiliki cara untuk mendekat, atau tidak memenuhi kriteria untuk mendekat, padahal ia melihat orang-orang lainnya mampu duduk berdekatan dengan fans-nya, lalu ia mencukupkan diri dengan “kebahagiaan” tersebut, dan ikut pergi serta bubaran bersama mereka-mereka yang mampu mendekat saat harus terjadi perpisahan atau pembubaran acara.
5. Ternyata di pasaran ada banyak ragam kopi dengan nama yang berbeda-beda. Cita rasanya pun juga tidak sama. Menariknya, cara manusia menikmatinya pun beragam.
Begitulah alam manusia, selalu ada saja “judul” yang dibuatnya. Gaya dan penampilannya pun aneh-aneh, dan kita pun, sebagai “penonton” berbeda juga cara kita dalam memandang, menilai, menyeleksi dan berdekatan dengannya.
6. Ada secangkir kopi yang kita seruput di saat musim atau udara dingin, agar tubuh menjadi hangat, setetes demi setetes kopi masuk ke dalam mulut kita dan sedikit demi sedikit pula tubuh menjadi hangat.
Begitulah keadaan manusia, ada orang-orang tertentu yang bila anda dekat dengannya, ia memberimu kehangatan melalui cintanya, perkawanannya, kemesraannya, dan perasaannya, sehingga kehadirannya selalu memberi rasa segar yang semakin menambah gairah detik-detik kehidupan.
7. Ada juga cangkir kopi yang tampak indah dari luar dan kejauhan, namun, begitu kita datangi, ternyata cangkir itu kosong!!!
Mirip sesosok manusia yang selalu ingin tampil serba segala-galanya, dan kita pun memandangnya dari luar dan kejauhan sebagai sosok yang penuh isi, namun, begitu kita mendekat, ternyata hanyalah sebuah tong kosong berbunyi nyaring!!!
8. Ada juga secangkir kopi yang rasanya tidak sempurna kalau tidak didampingi oleh kue-kue manis untuk menutupi rasa pahitnya.
Mirip seseorang yang anda “terpaksa” berkawan dan duduk bersamanya, hanya saja anda tidak dapat melakukannya seorang diri, anda perlu seorang atau lebih teman duduk bersamanya, agar memiliki daya tahan lebih bersamanya.
9. Terkadang anda dihidangi secangkir kopi panas yang sangat panas, sehingga anda perlu ekstra hati-hati saat ingin menyeruputnya kalau tidak ingin lidahmu “terbakar” dan tenggorokan serta perutmu “terkelupas”.
Mirip seseorang yang anda tidak mampu lagi bertahan mendengarkan kalimat dan gaya-gayanya, sebab ia selalu “menyengat”-mu dengan kalimat, cara dan gaya serta sikap perilakunya.
10. Secangkir kopi, anda telah berlelah-lelah mempersiapkannya, bahkan terkadang (kalau tidak sering) anda berlama-lama memberi “sentuhan” kepadanya, namun, begitu ready dan siap saji, ternyata hasilnya tidak seperti yang anda prediksi dan anda bayangkan, bahkan sangat mungkin, ternyata kopi itu sangat tidak enak.
Hal ini mirip seseorang yang telah anda perlakukan dengan istimewa dan anda sikapi dengan akhlaq-akhlaq mulia, namun, sama sekali tidak ada timbal baik positif darinya, walau sekedar kata “terima kasih”, dan bahkan sangat mungkin ia menempatkan anda pada posisi serba sulit, atau “melemparimu” dengan kata-kata yang menyakitkan.
11. Satu hal yang harus selalu anda ingat, hati-hati saat menyeruput secangkir kopi, jangan sampai ada yang tertumpah atau menetes dan mengenai pakaian anda, terutama kalau yang berwarna putih. Oleh karena itu, lakukan seleksi yang baik dan benar saat anda harus berteman, jangan sampai sang teman menyeretmu dalam keburukan, padahal anda tidak melakukannya, atau istilahnya “kena abunya”, atau “tidak dapat nangkanya, tapi kena getahnya”, atau “dapat perekatnya padahal tidak ikut makan pulut atau ketannya”.
[Musyafa]


Fathurrahman Al Fath

No comments:

Post a Comment